Sultan dan Si Punggawa

@ pocongSuatu hari, sultan yang sedang berada di istananya kedatangan seorang punggawa yg sangat dekat dengannya. Penuh isak tangis, dia bertutur bahwa saat itu juga dia harus pergi ke Baghdad. Oleh karena itu dia memohon kepada sang sultan untuk bisa meminjamkan salah satu kudanya yang paling cepat.

Sang sultan bertanya, mengapa dia begitu terburu-buru ingin ke Baghdad. “Karena”, jawab punggawa itu, “tadi saat hamba melintasi taman istana, hamba melihat Malaikat Maut berdiri disana, dan saat melihat hamba dia merenntangkan kedua belah tangannya seolah mengancam hamba. Oleh karena itu, hamba harus cepat-cepat kabur darinya.”

Punggawa itu diberi izin membawa kuda tercepat Sultan. Saat dia telah pergi, sang sultan dengan penuh kemarahan pergi memasuki taman dan didapatinya si Malaikat maut masih ada disana. “Beraninya kau mengancam punggawaku yang paling setia!” teriaknya. Akan tetapi Malaikat Maut, penuh keheranan, menjawab, “Sungguh Yang Mulia, saya tidak mengancamnya. Saya mengangkat kedua tangan hanya karena kaget saja melihat dia berada disini, karena nanti malam seharusnya saya menemuinya di Baghdad.”

-Edith Wharton-

Sumber: Wahyu Untara, “Segarkan Pikiranmu”.

One response to this post.

  1. Posted by sadiq21 on 06/06/2009 at 2:50 AM

    HI

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: