Ruas Malam Kota Jogja

coffeeNote ini sebenarnya komentar yang ingin kukirimkan ke Faris. Dua hari ini sibuk baca blog Faris (www.farisalfadh.co.nr), nyuri2 waktu di kantor. Sayang banget, susahnya minta ampun buat ngepost comment di blognya. Sering banget gagal. Itu juga mungkin yg bikin blog Faris sepi komen. Padahal bagus2 tulisannya.

Dalam tulisan Faris tentang jogja, ia menyinggung soal habitnya menelusuri ruas malam jogja utk sekadar cari tempat discus dan kuliner yg asyik. Jika membicarakan soal kota Jogja, maka aku akan teringat segalanya. Segalanya dalam hidupku. Karena Jogja tempatku tinggal sejak lahir. Meski sudah 21 tahun aku tinggal, jarang sekali aku bisa menikmati ruas-ruas malam kotaku sendiri. Itu karena aku ditakdirkan lahir dari orangtua yang selalu bilang “ora elok” jika perempuan berkeliaran di jalan tengah malam. Tidak masalah. Larangan tak enak jika tidak dilanggar sesekali. Yang penting aku melakukannya tanpa membuat ibuku merasa aturannya telah dilanggar. Caranya? he he…itu rahasia.

Heeem…nikmat sekali mojok di kafe sebelah selatan perempatan concat dengan sofa merah empuk sambil nyeruput espresso. Bukan karena kopinya yg enak, melainkan karena harganya yg mahal tapi gelasnya kecil. Deg-degan juga karena aku satu-satunya gadis berjilbab yang duduk disana hingga pukul 1 malam. Sedang disekelilingku laki-laki yang tidak kukenal. Ah, tak apa lah. Pura-pura sibuk saja supaya tidak diganggu.

Samar kudengar diseberang meja ada empat laki-laki seusia kakakku sedang membicarakan (jika boleh GR) aku. Sepertinya keheranan. Sepertinya merencanakan untuk menyapaku, dan tiba-tiba “Mbak, udah malem kok belum pulang? sendirian aja?”. Heh, aku pura-pura kaget. “Iya, masih asyik browsing” kubilang. “Cewek kaya mbak kan harusnya udah dirumah jam segini”. Ups, kenapa aku? tak nampak kah oleh mereka disudut sana juga ada makhluk cewek dengan tank-top dan rok mini sedang meniup-niupkan asap dari dalam mulutnya. Dan dia menyebutku dengan istilah ‘cewek kaya mbak’, ooh…barangkali karena aku berjilbab. Aku tersenyum dan dengan ringan kujawab “Salah kah kalo saya disini sampe pagi?”. Kemudian mereka menjawab dengan alasan yang tidak masuk di akalku untuk menyatakan bahwa aku salah berada disana hingga dini hari.

Agh, biarkan saja. Salah itu sendiri juga bisa menjadi benar toh.

Artikel Terkait:

Mensyukuri Hal Remeh

Jika Wanita Diumpamakan Ikan

Contreng Yuuk

Kuliah Ga Lulus-Lulus

Ilalang Diantara Pohon Padi

Nikah Muda, Ya Nggak Sih

Bahagia Bagaimana Wujudnya?

3 responses to this post.

  1. Posted by yusro fiddin on 02/12/2009 at 10:52 PM

    ndak pa2 kalo memang benar2 bisa jaga diri. tapi wanita kan kalo keluar harus ditemani muhrimnya…

    Reply

  2. Hayooo bilangin ibu lho malem2 keluyuran…. :p

    Tak ingatkah kau saat kita bersama-sama sering pulang malam dahulu ris?? Hehe..

    Reply

  3. ouw.. nampaknya kalo jogya akan menjadi kota yang berkesan.. mungkin diskursus mengenai kota tidak akan pernah habis. penuh dengan misterius kota.. akulturasi budaya menjadikan jogya menjadi misterius..

    jadi jogya tidak pernah hilang di ingatan..
    walaupun raga meninggalkan jogya,
    tapi perasaan dan kenangan tidak akan pernah keluar dari kota seribu misteri..

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: