The History of Bakwan

Weks, judulnya lebay! hehehe, sengaja dong biar kamu pada baca.

Udah pada tau penampakan bakwan lom? (katrok deh yang belum tau). Kayak gini nih: bakwan

Dibalik penampakannya yang mlenukmlenuk itu, ada history tentang asal-muasal si bakwan. Ga tau ni bener pa enga, soalnya belum sempat saya riset. Cuma buat wacana aja sih OKE. Gini ceritanya….

Konon menurut cerita di jaman akhir dinasti Ming dan permulaan dinasti Qing, di Fuzhou, Tiongkok, hiduplah seorang anak laki-laki yang sangat berbakti pada orang tua. Kehidupan mereka amat miskin, terlebih setelah sang ayah meninggal dunia. Sang ibu susah payah membesarkan sendiri anak tersebut hingga menjadi seorang pemuda yang gagah dan rajin. Setelah dewasa, si pemuda ini mengambil alih segala beban pekerjaan yang selama ini dipikul oleh ibunya.

Setiap subuh, si pemuda sudah berangkat bekerja, mencari kayu bakar dan hasil hutan lainnya untuk dijual dikota.

“Anakku, mendaki gunung harus hati-hati!”, pesan ibunya.

Pemuda itupun mengangguk sambil memegang kapak dan keranjang, siap-siap berangkat, dia berkata,

“Bu, makanan sudah tersedia di atas meja, bila ibu lapar, makanlah dulu, tidak perlu menungguku lagi”.

Karena dia giat bekerja, dalam beberapa tahun kemudian ekonomi eluarganya semakin membaik, pemuda ini pun dapat mempersunting seorang istri. Ibunya bahagia karena memperoleh menantu yang telaten melayani di hari tuanya.

Suatu hari ketika mereka sedang makan malam, sang menantu berkata,

“Bu, cobalah makan daging ini, rasanya enak dan sangat bergizi!”.

Sang ibu sambil mengeleng kepala berkata, “Menantu yang baik, ibu sudah tua, gigi ibu tidak kuat mengunyah daging ini, lebih baik ibu makan sayur saja”.

Mereka pun melanjutkan makan malam. Dalam hati, pemuda ini berpikir, “daging yang kecil tipis pun tidak bisa digigit oleh ibu, saya harus mencari cara agar ibu bisa menikmati kelezatan daging ini”.

Malamnya, pemuda ini terus memikirkan bagaimana agar ibunya dapat menikmati lezatnya daging. Bersama istri, dia mencoba berbagai cara memasak, hingga akhirnya, “ah, ini seharusnya cara yang bagus!”, kata pemuda ini sambil mencincang daging tersebut hingga halus dan dibentuk bulat-bulat, dimasukkan ke dalam air untuk dimasak.

Keesokan harinya, sang istri menghidangkan makanan ini. Sang pemuda meminta ibunya mencoba, “Bu, coba rasakan bagaimana rasa bakwan ini?”. Ibunya mencicipi, “Hhm, daging ini empuk sekali, rasanya enak, Ibu bisa lebih mudah memakannya”. Pemuda ini dengan wajah berseri, berkata, “Ibu, kalau begitu, makanlah lebih banyak lagi yah!”

“Baik, baiklah anakku!”, ibu tua ini mengangguk kepala. Mereka terlihat sangat bahagia.

Perilaku berbakti pemuda ini kemudian menyebar luas. Menurut dialek Minlan, daging bulat tersebut dinamakan Gong Wan atau Bakwan.

Nah, bagi yang tau kebenaan cerita ini ato punya history bakwa versi lain, monggo2 masukin kesini. Ditunggu yaaaaaaaaaak………….!

2 responses to this post.

  1. Posted by izar on 06/04/2009 at 8:09 PM

    heheheheeee…..
    bakwan kan ajiiip…..hehehe
    jadi,q hanya bisa makan doank,hehehehe
    g bs ninggalin coment,cm ni doankz…key….

    Reply

  2. Blog yang bagus nih.
    Salam kenal aja dulu.

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: