PENJAJAH BARU NEOLIBERALISME!!

“Aku yakin benar bahwa tatanan ekonomi sekarang ini, yang dipaksakan oleh negeri-negeri maju, tidak saja kejam, tidak adil, tidak manusiawi dan bertentangan dengan hukum keniscayaan sejarah, akan tetapi juga, secara inheren, rasis!!” (Pidato Fidel Castro)

Diam-diam tanpa kita sadari, muncul sebuah kata baru yang masuk ke dalam perbendaharaan kita “Neoliberalisme” ; inti ideologi dan kiprah globalisasi. Memang belum sepopuler kata “Komunisme”, “Sosialisme”, atau bahkan “Kapitalisme”, tapi kata ini benar-benar telah merasuki ke dalam berbagai wacana entah ekonomi, politik, sosial, hukum, atau budaya. Dikalangan aktivis yang tergolong dalam gerakan massa dan LSM, kata “Neoliberal” menjadi sebuah kata yang cukup mengerikan. Namun sebaliknya, bagi para pendukung-pendukungnya menjadi semacam kata mantra yang sanggup merealisasikan apa yang mereka inginkan. Dengan kata lain “Neoliberalisme” tidak hanya mengacu pada sebuah referen baru tapi juga membelah orang-orang menjadi kelompok-kelompok: pendukung, pengagum, penolak, bahkan orang yang tidak bersikap.

Kalau mau dikatakan baru, memang ia baru saja menjadi buah bibir, yaitu kurang lebih 15-20 tahun terakhir. Orang melihat sebuah gejala baru, yang belum pernah ada sebelumnya. Ada gerakan yang serentak mengarah kepada pemujaan pasar (fundamentalisme pasar). Bukan hanya bahwa mekanisme pasar harus dipakai untuk mengatur ekonomi sebuah negara, tetapi juga untuk mengatur ekonomi global. Produk tidak boleh hanya dipasarkan di dalam negeri, tetapi juga luar negeri. Begitu halnya dengan investasi yang tidak ditanamkan secara lokal, melainkan harus merambat ke seluruh pelosok bumi mengikuti hukum supply and demand. Gejala yang baru ini telah meninggalkan wilayah “political Economy” biasa dan memasuki wilayah yang kini ramai disebut “International Political Economy”.

Inilah zaman baru, zaman ketika kapitalisme menemukan mantelnya yang baru yang lebih radikal. Marx pada abad ke-19 memang pernah mengatakan bahwa kapitalisme akan ke luar dari batas-batas nasional negara. Kemudian tokoh sosialis abad ke-20 juga pernah mengatakan bahwa kapitalisme akan menjelma menjadi imperialisme. Pada saat ini, dengan dukungan teknologi komputer dan informasi yang canggih, kekuatan kapitalis lokal bergabung dengan kekuatan kapitalis global, bersama-sama mencoba mengeruk kekayaan planet bumi, sementara itu dijanjikan bahwa kemakmuran global akan menjadi kenyataan lebih cepat daripada yang diinginkan.

Apakah neoliberalisme memang akan membawa kemakmuran seperti yang telah dijanjikan? Jawabannya Negatif. Kalau ekonomi neoliberal membawa kemakmuran, mengapa 1,3 Milyar manusia di bumi ini masih hidup dengan uang kurang dari US$ 1,2. Sementara 2,8 Milyar manusia di bumi (hampir separuh penduduk bumi) hidup dengan US$ 2? Bandingkanlah, bagaimana seperlima penduduk bumi menikmati 80 persen dari pendapatan dunia. (The Independent, 18 Maret 2002). Dunia ini tidak menjadi lebih makmur, apa lagi adil, semata-mata karena Kapitalisme yang menjelma menjadi Neoliberalisme itu. Lebih menarik lagi, ketimpangan ini tidak hanya menimpa negara-negara berkembang, namun juga negara-negara maju sekalipun.

Ada beberapa faktor yang mendorong munculnya neoliberalisme. Yang pertama adalah munculnya Perusahaan Multi-Nasional (Multinational Corporations-MNC) sebagai kekuatan yang nyata dan bahkan memiliki aset kekayaan yang lebih besar daripada negara-negara kecil di dunia. Kedua adalah munculnya organisasi atau “rezim internasional” yang berfungsi sebagai sistem pengendali. Untuk menjamin bahwa negara-negara di seluruh dunia patuh menjalankan prinsip pasar bebas dan perdagangan bebas. Yaitu World Trade Oganization (WTO) yang dapat menjatuhi hukuman kepada negara-negara yang tidak patuh pada sistem perdagangan bebas. Kemudian organisasi berkaitan dengan institusi keuangan, yaitu World Bank dan International Monetary Fund (IMF) yang biasa disebut sebagai Si Lintah Darat. Ketiga adalah terjadinya revolusi dibidang teknologi komunikasi dan transportasi, yang menurut Anthony Giddens dan David Harvey bahwa ruang dan waktu sekarang tidak relevan lagi.

Dengan demikian kita temukan sebuah situasi yang penuh ironi dalam alam neoliberalisme sekarang. Ironi pertama adalah dominasi dari Perusahaan Multinasional (MNC). Sebagai perusahaan swasta semestinya mereka tunduk kepada otoritas politik negara, malah mampu mendiktekan jenis kebijakan yang harus diambil oleh penguasa negara yang mendapat mandat dari rakyat. Ironi kedua adalah negara selalu dituntut agar tidak lagi memainkan peran dalam ekonomi. Pada akhirnya yang kita dapatkan bukan kebebasan dan kemakmuran global, melainkan (1) situasi perekonomian dunia secara umum terpuruk, (2) organisasi internasional yang dimanipulasi habis, (3) dominasi negara maju atas negara berkembang mirip kolonialisme abad ke-19. Inilah realitas hari ini yang kita rasakan, bahwa kesenjangan sosial semakin tak terhingga.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: